liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Sesar Cimandiri, Patahan Bumi Penyebab Gempa Cianjur

Gempa bermagnitudo 5,6 yang terjadi di Cianjur pada 21 November lalu mengungkap potensi gempa di Jawa Barat. Di daerah ini terdapat tiga patahan aktif atau patahan lempeng bumi, yaitu Sesar Lembang, Cimandiri, dan Baribis. Ketiga sesar ini memiliki potensi gempa yang besar di tanah Pasundan.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan gempa di Cianjur terjadi akibat pergerakan patahan. Pusat gempa berada di 6,86° Lintang Selatan; 107,01° BT atau di darat di daerah Sukalarang, Sukabumi, Jawa Barat.

“Diduga karena pergerakan Sesar Cimandiri,” ujarnya kepada wartawan, Senin, 21 November 2022.

Sejak gempa terjadi hingga 22 November 2022 pukul 16.00, BMKG mencatat 140 kali gempa susulan yang frekuensinya terus berkurang. Pada selang waktu tersebut magnitudo gempa terbesar adalah M4.2 dan terkecil adalah M1.2.

Menurut Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, banyaknya korban dan kerugian disebabkan tiga hal. Pertama, gempa terjadi di kedalaman dangkal 11 kilometer. Gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di zona sistem Sesar Cimandiri. Kemudian, dia menilai struktur bangunan masih belum memenuhi standar aman gempa.

“Ketiga, lokasi pemukiman berada di tanah lunak (pengaruh situs lokal) dan perbukitan (pengaruh topografi),” katanya di akun Twitternya.

Lokasi Sesar Cimandiri

Menurut buku Mengenal Sesar Gempa Di Sekitar Jakarta seri 1 terbitan Tempo, Jawa Barat memiliki tiga sesar aktif, yakni sesar Lembang, Cimandiri, dan Baribis. Berdasarkan kajian Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran pada tahun 2017, sesar Cimandiri merupakan sesar tua yang terbentuk pada proses orogenik tahap II pada akhir Eosen Tengah.

Sesar ini membentang sepanjang 70 kilometer dan dapat dibagi menjadi dua berdasarkan orientasi garis sesarnya. Pertama, Segmen Barat Sesar Cimandiri bergerak ke barat-timur dan membujur dari Pelabuhan Ratu hingga Bukit Walat.

Kedua, Segmen Timur Sesar Cimandiri yang bergerak berarah timur laut-barat daya, membentang dari perbatasan Sukabumi-Cianjur hingga Gunung Tangkuban Perahu di Bandung Utara.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh LIPI Geotechnology – kini menjadi bagian dari BRIN – membagi Sesar Cimandiri menjadi lima segmen. Pertama ruas Pelabuhan Ratu–Citarik, lalu Citarik–Cadas Malang, dan Cicereum–Cirampo. Disusul ruas Cirampo-Pangleseran, dan Pangleseran-Cibeber. Ada juga beberapa ruas antara Cibeber–Padalarang.

Sesar ini juga dipotong oleh beberapa sesar besar lainnya, seperti Sesar Citarik, Sesar Cicareuh, dan Sesar Cicatih. Dalam catatan Eddy Z. Gaffar dari LIPI, ketiga patahan ini melewati daerah yang cukup labil sehingga angin topan di jalur ini akan merusak daerah tersebut.

“Dari hasil perencanaan beberapa gempa yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir, ternyata pusat gempa berada di jalur patahan yang melintasi Sesar Cimandiri. Walaupun dapat disimpulkan sesar yang memotong sesar Cimandiri kemungkinan merupakan sesar aktif,” tulis Eddy dalam kajiannya.

Peneliti gempa Institut Teknologi Bandung Irwan Meilano menambahkan, patahan ini bergerak dengan kecepatan empat hingga enam milimeter per tahun. Sedangkan sisi selatan lebih aktif.

“Dengan kecepatan tersebut, sesar Cimandiri bisa menghasilkan gempa berkekuatan 5-6 skala richter. ini sama dengan gempa Sesar Opak yang menghancurkan hampir 1.000 rumah di Sukabumi pada tahun 2000,” kata Irwan dikutip dari buku Menge Sesar Gempa di Sekitar Jakarta.

Sejarah Gempa Sesar Cimandiri

Jika dilihat dari sejarahnya, Sesar Cimandiri memiliki potensi kegempaan yang cukup besar. Padahal, gempa yang diakibatkan oleh patahan tersebut sudah tercatat sejak awal 1900-an.

Mulai dari gempa Pelabuhan Ratu tahun 1900, gempa Padalarang (1910), dan gempa Conggeang (1948). Hampir tiga dekade lalu, gempa Tanjungsari (1972), gempa Cibadak (1973), gempa Gandasoli (1982), dan gempa Sukabumi (2001).

Daryono menjelaskan, kawasan Sukabumi-Cianjur yang dilalui Sesar Cimandiri memang berada di kawasan seismik aktif. Gempa pertama yang tercatat di kawasan ini terjadi sejak tahun 1844. Berikut peta kegempaan kawasan tersebut, dari tahun 2009 hingga 2020:

Berdasarkan peta seismik tahun 2009-2021, ternyata lokasi pusat gempa merupakan daerah seismik aktif. pic.twitter.com/MEePS9qS7F

— DARYONO BMKG (@DaryonoBMKG) 21 November 2022