liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Perjalanan Gubernur Bank Indonesia Bergelut Menjaga Moneter

Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2022 mencapai 0,61% bulanan atau 4,35% tahunan. Angka tahunan tersebut melampaui batas inflasi Bank Indonesia tahun 2022, yakni 3% plus minus 1%, sekaligus tertinggi sejak 2017, yakni 3,61%.

Inflasi tidak hanya melanda negara tersebut, data Tradingeconomics menunjukkan bahwa Venezuela menjadi negara dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di dunia sebesar 222% year-on-year (yoy). Harga barang di sana naik lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir. Berikut perbandingan 10 negara dengan inflasi tahunan tertinggi, seperti dilansir Databoks:

Sebelumnya, Indonesia mengalami titik inflasi tertinggi pada awal Orde Baru, tepatnya pada tahun 1966. Saat itu, tingkat inflasi negara mencapai 635%. Akibatnya, lonjakan kenaikan harga tidak lagi disebut sebagai inflasi, melainkan hiperinflasi.

Boediono dalam buku berjudul Indonesian Economy in Historical Trajectory menulis tentang hiperinflasi sebagai keadaan dimana tingkat inflasi sangat tinggi, yaitu 100% atau lebih. Akibatnya, masyarakat akan kehilangan kepercayaan dalam memegang uang, karena kekhawatiran yang meningkat bahwa nilai uang akan turun.

Gubernur Bank Indonesia Kendalikan Hiperinflasi

Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hiperinflasi yang terjadi pada awal Orde Baru juga menjadi tantangan yang dihadapi Gubernur Bank Indonesia pada era Presiden Soeharto, yakni Radius Prawiro.

Sebagai pemimpin Bank Indonesia dari tahun 1966 hingga 1973, Radius memulai upaya untuk memperbaiki perekonomian dengan mengubah Undang-Undang Dasar Bank Indonesia. Dalam catatan Tirto, upaya perbaikan tersebut berhasil menekan hiperinflasi secara drastis dari 635% pada tahun 1966 menjadi 112,2% pada tahun 1967. Kecenderungannya semakin menurun hingga mencapai level 85,1% pada tahun 1968.

Selama masa jabatannya, Radius juga harus menghadapi masalah likuiditas, dimana masyarakat saat itu tidak mau menabung dan cenderung menyimpan kekayaan dalam bentuk perhiasan. Bukan tanpa alasan masyarakat takut dengan kebijakan redenominasi dari Rp 1.000 menjadi Rp 1 yang terjadi pada tahun 1959.

Oleh karena itu, Gubernur Bank Indonesia kelahiran Yogyakarta ini meluncurkan program Tabungan Pembangunan Nasional (Tabanas) dan Tabungan Asuransi Berjangka (Taska). Program ini disertai dengan penarikan bunga 6% per bulan dan uang tabungan akan bebas dari pengawasan.

Berkat keberhasilan program ini, tingkat inflasi turun menjadi satu digit, tepatnya 2,5% pada tahun 1971. Jumlah uang beredar pun turun dari 765% pada tahun 1966 menjadi 33% pada tahun 1970. Berkat jasanya, nama Radius Prawiro diabadikan sebagai salah satu gedung Bank Indonesia yang terletak di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat sejak tahun 2015.

Bank Indonesia (Arief Kamaludin | Katadata)

Selanjutnya, kepemimpinan Bank Indonesia dari tahun 1973 hingga 1983 diserahkan kepada Rachmat Saleh. Gubernur Bank Indonesia patut dicontoh. Rachmat memiliki lima pedoman profesi, etika dan moral yaitu nasionalisme, kejujuran, kerja keras, dedikasi dan meningkatkan pengetahuan secara konsisten.

Arifin Siregar tercatat sebagai Gubernur Bank Indonesia kedelapan periode 1983 hingga 1988 menggantikan Rachmat Saleh. Menurut Antara, Arifin memperoleh gelar PhD di bidang ekonomi dari Universitas Munster, Jerman Barat pada 1960. Setelah menamatkan pendidikannya, pria asal Medan ini mengawali kariernya di Jerman Barat sebagai peneliti.

Sebelum menjadi Gubernur Bank Indonesia, ia memiliki karir yang panjang. Arifin adalah ekonom di United Nations Bureau of General Economic Research and Policy di Amerika Serikat.

Selama periode 1969-1971, dia adalah perwakilan Dana Moneter Internasional di Laos dan bertindak sebagai penasihat keuangan dan keuangan pemerintah Laos. Setelah itu, ia kembali ke Indonesia untuk bekerja di Bank Indonesia. Arifin membutuhkan waktu 12 tahun untuk menjadi orang nomor satu di Bank Negara.

Pada tahun 1988, ketua Bank Indonesia yang kesembilan berganti menjadi Adrianus Mooy. Pria kelahiran Pulau Rote ini merupakan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada lulusan tahun 1958. Ia juga mendapatkan gelar guru besar bidang ekonomi dari University of Wisconsin, USA, pada tahun 1987.

Salah satu kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia pada era Adrianus adalah Paket Oktober 1988 (Pakto 88) yang berisi kebijakan ekonomi deregulasi perbankan. Melalui kebijakan tersebut, BI telah menetapkan modal minimum untuk mendirikan bank swasta baru sebesar Rp10 miliar, dan untuk Bank Perkreditan Rakyat (RBA) Rp50 juta. Akibatnya, bank-bank baru tumbuh dengan memperluas pembukaan cabang.

Dalam buku Alumni Apa & Siapa UGM, Adrianus tercatat sebagai dosen di Fakultas Statistik Universitas Indonesia, hingga mengajar di Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko Abri). Sebelum menjadi Gubernur Bank Indonesia, beliau adalah Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional yang terlibat dalam penyusunan Kerangka Kebijakan Nasional (GBHN).

Setelah kepemimpinan Adrianus berakhir pada 1993, Gubernur Bank Indonesia terakhir pada era Orde Baru adalah Sudrajad Djiwandono. Sama seperti Adrianus, Sudrajad merupakan alumni Fakultas Ekonomi UGM dan memulai karirnya di Lembaga Pendidikan Nasional. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan pada 1988. Menurut catatan Tempo, jabatan itu diperolehnya atas ajakan ekonom berpengalaman, Soemitro Djojohadikusumo.

Sekitar tiga bulan sebelum Presiden Soeharto lengser, Sudrajad dipecat pada 11 Februari 1998. Saat itu, Indonesia dilanda krisis keuangan yang menggulingkan Soeharto dari kursi kepresidenan pada 21 Mei 1998.

Krisis Moneter dan Reformasi Ekonomi

Sepanjang tahun 1998, nilai rupiah terdepresiasi lebih dari 70% dimana puncaknya terjadi pada Juli 1998 dimana US$ 1 setara dengan Rp 14.700. Tingkat inflasi juga meningkat signifikan menjadi 77,6%. Reformasi di bidang ekonomi dilakukan, tidak hanya di bidang politik.

Saat itu, pemerintah mengeluarkan UU Keuangan Nasional, UU Perbankan, pemberian kemerdekaan Bank Indonesia, serta peraturan yang melarang pemberian pinjaman kepada bank atau perusahaan yang masih memiliki ikatan dengannya. Selain itu, pemerintah membentuk Badan Penyehatan Bank Indonesia (BPPN) berdasarkan Keputusan Presiden nomor 27 tahun 1998. Tujuannya untuk melakukan restrukturisasi perbankan dan pemulihan keuangan negara.

Jabatan Gubernur BI dialihkan ke Syahril Sabirin, yang saat ini menjabat sebagai ekonom keuangan senior di Bank Dunia, Washington DC. Di bawah kepemimpinannya, uang pecahan Rp 100.000 pertama kali dikeluarkan, tepatnya pada 1 November 1999.

Setelah Syahril menyelesaikan masa baktinya pada 2003, Burhanuddin Abdullah menjadi Gubernur BI ke-12. Karirnya di BI dimulai pada tahun 1994 sebagai Kepala Perdagangan Internasional dan Kerjasama Ekonomi. Ia bekerja untuk BI hingga 2001, sebagai wakil gubernur sebelum diangkat menjadi Menko Perekonomian oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Ia menjabat sebagai Gubernur BI hingga 2008.

Boediono, pemegang gelar Ph.D di bidang ekonomi dari Wharton School, University of Pennsylvania, Amerika Serikat, memegang kendali bank sentral. Ia dikenal sebagai menteri keuangan di bawah Presiden Megawati yang berhasil membebaskan Indonesia dari bantuan IMF dan menstabilkan nilai tukar rupiah pasca krisis moneter 1998 di Rp 9.000 per dolar AS. Sementara itu, dialah satu-satunya calon yang memenuhi syarat untuk menduduki kursi Gubernur Bank Indonesia yang diajukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu.

Sejak Boediono mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden SBY pada pemilu 2009, Miranda Gultom mengambil alih sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI. Jabatan Miranda sebelumnya adalah Deputi Senior Bank Indonesia.

Darmin Nasution dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia ke-14 sejak 1 September 2010 hingga 2013. Seperti Miranda, Darmin adalah Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dan menjadi Pj Gubernur BI.

Setelah itu, Agus Martowardojo diangkat menjadi Gubernur BI periode 2013 hingga 2018. Di bawah kepemimpinannya, Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) mulai bermunculan, seiring dengan penggunaan uang elektronik di jalan tol. BI Institute juga terbilang baru saat ini, sebagai lembaga pendidikan ekonomi multi-stakeholder.

Sejak tahun 2018 hingga saat ini, posisi nomor satu Bank Indonesia diduduki oleh Perry Warjiyo. Keterlibatannya di Bank Negara tidak singkat, dari tahun 1984 di daerah penelitian hingga menjadi Biro Gubernur. Perry kemudian melebarkan karirnya ke IMF dari tahun 2007 hingga 2009. Di sana, ia menjabat sebagai direktur eksekutif yang mewakili 13 negara anggota Kelompok Voting Asia Tenggara.

Singkat cerita, Perry kembali ke Bank Indonesia pada 2009 dan menjadi asisten Gubernur BI. Pada 2013, ia terpilih sebagai Wakil Gubernur, setelah dicalonkan selama empat tahun berturut-turut. Selama bekerja di BI, Perry mengajar di Pascasarjana Ekonomi Moneter dan Ekonomi Keuangan Internasional, Universitas Indonesia.