liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Logo Katadata

Telkomsel dan IndiHome akan menggabungkan layanan dalam bentuk Fixed Mobile Convergence (FMC). Kehadiran FMC merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan konsumen dan mengedepankan keunggulan kompetitif Telkom.

Melalui aksi korporasi Telkom berupa pemisahan usaha, IndiHome dan Telkomsel akan saling mendukung ketika operasional perusahaan terganggu. Dari segi bisnis, keduanya juga saling menguntungkan, karena saling menguatkan dalam usahanya menembus pasar dan memberikan layanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pembagian fokus bisnis ini merupakan strategi Telkom dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di sektor digital dan telekomunikasi. Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang menyatakan Telkom akan berjalan pada jalur business-to-business, sedangkan Telkomsel mengurus bisnis ke pelanggan.

Direktur Eksekutif Institut TIK Indonesia, Heru Sutadi, menyatakan FMC sebenarnya bukan hal baru. Menurutnya, kehadiran FMC merupakan angin segar baik bagi perusahaan telekomunikasi maupun masyarakat.

“Kalau bicara seluler, ada juga Fixed Wireless Access (FWA), lalu ada juga Fixed Line atau Fixed Broadband. Kami melihat arah ke depan adalah Fixed Mobile Convergence dimana terjadi konvergensi atau penyatuan layanan antara fixed dan mobile,” ujar Heru dalam wawancara telepon, Selasa (27/12).

Bisnis FMC sendiri sudah diterapkan di beberapa negara seperti China, Singapura dan Australia. Saat ini China masih menjadi pasar FMC terbesar di Asia Pasifik.

Namun, Heru melihat FMC memiliki prospek cerah di Indonesia mengingat tingginya jumlah pengguna internet dan pertumbuhannya yang berkelanjutan. Begitu juga dengan tingginya penggunaan media sosial dan maraknya berbagai layanan berbasis aplikasi.

“Jumlah pengguna internet kita 204,7 juta dan dalam beberapa bulan ke depan akan ada perubahan baru, mungkin jumlahnya mencapai lebih dari 210 juta. Artinya Indonesia juga bukan pasar yang kecil (untuk FMC),” ujarnya.

Meski beberapa negara telah mengimplementasikan FMC terlebih dahulu, Heru yakin Indonesia belum terlambat dalam menghadirkan layanan FMC. Pasalnya, operator telekomunikasi di dunia juga membutuhkan waktu lama untuk menemukan model bisnis yang cocok untuk layanan FMC.

Heru juga menyebutkan tidak semua perusahaan telekomunikasi mampu menyediakan layanan FMC karena tidak semua perusahaan telekomunikasi memiliki layanan fixed broadband dan mobile broadband secara bersamaan.

Bagi perusahaan yang hanya memiliki satu layanan, langkah yang diambil umumnya adalah merger dengan perusahaan lain yang dapat melengkapi layanannya. Namun, langkah ini juga memiliki potensi rintangan, yakni gap coverage antara fixed broadband dan mobile broadband.

“Misalnya dia punya fixed broadband hanya di Jakarta tapi mobile broadband-nya nasional, ini juga timpang,” ujarnya.

Terlepas dari kendala tersebut, Heru melihat FMC sebagai solusi untuk memenuhi tuntutan pasar digital. Harapannya adalah dapat memberikan jangkauan layanan yang luas, harga yang terjangkau, dan kualitas jaringan yang baik.

“Konvergensi layanan fixed dan mobile merupakan kebutuhan masyarakat dan jika kedua layanan ini bisa disatukan ini juga baik bagi para pengusaha,” ujarnya.