liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Menilik Sejarah Gula di Indonesia, Komoditas yang Bikin Betah Penjajah

Wacana cukai minuman manis kembali mengemuka. Apalagi setelah viral somasi polemik yang dikirimkan manajemen Es Teh Indonesia kepada salah satu pelanggannya.

Somasi tersebut merupakan hasil dari keluhan konsumen bahwa rasa salah satu produk Es Teh Indonesia terlalu manis. Usai somasi dikirimkan, banyak netizen di Twitter yang terpancing untuk berkomentar.

Minuman manis sendiri memiliki bahan dasar gula. Baik gula maupun zat lain yang terbuat dari gula.

Sejak zaman dahulu gula tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat khususnya di Indonesia. Karena banyak sekali varian makanan dan minuman yang diolah menggunakan bahan-bahan tersebut.

Padahal, secara historis, gula merupakan komoditas utama di Indonesia. Dilihat ke belakang, keberadaan pabrik gula berperan penting dalam munculnya alat transportasi saat ini, yaitu kereta api.

Lantas bagaimana sejarah gula di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari simak ulasan singkat berikut ini.

Sejarah Singkat Peredaran Gula di Dunia

TARGET PILIHAN TEBU PTPN X (FOTO ANTARA/Prasetia Fauzani/tom.)

Gula adalah salah satu komoditas tertua di dunia. Penggunaan gula sebagai pemanis minuman dan makanan bahkan sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Secara umum, ada beberapa jenis gula yang diperoleh dari proses alam. Misalnya seperti gula pasir yang berasal dari air tebu kemudian mengkristalkannya. Lalu ada gula merah yang terbuat dari getah pohon enau.

Tidak ada catatan atau bukti arkeologi yang menunjukkan kapan dan siapa yang pertama kali membudidayakan tebu sebagai bahan baku pembuatan gula. Namun, menurut Asosiasi Gula, domestikasi pertama tebu mungkin dilakukan oleh penduduk asli Papua Nugini.

Saat itu banyak orang Polinesia yang mengunyahnya mentah-mentah.

Mengutip World History.org, diperkirakan sekitar 3.000 tahun lalu masyarakat India di bawah dinasti Gupta mulai memeras tebu dan mengolahnya menjadi gula pasir. Sayangnya, proses pembuatannya dirahasiakan.

Hanya ketika penguasa Kekaisaran Achaemenid Persia Darius I menginvasi India pada 510 SM, teknologi untuk membuat gula dibawa dan mereka mulai memproduksi gula sendiri.

Sejak saat itu, banyak peradaban di dunia yang mulai membuat gula. China misalnya pada tahun 600 Masehi mengembangkan budidaya tebu pertamanya dengan menggunakan teknologi yang diperoleh dari India. Banyak ahli percaya bahwa penyebaran gula ke berbagai belahan dunia tidak lepas dari perkembangan kerajaan Romawi.

Pada tahun 1099, gula tercatat pertama kali masuk ke Inggris. Saat itu gula dianggap sebagai barang mewah yang disebut emas putih.

Meningkatnya minat orang Eropa terhadap gula menjadikan komoditas ini sebagai produk perkebunan unggulan untuk ekspor. Dalam buku The History of Sugar: Jilid Satu, sekitar tahun 1480 – 1540 M. Penjelajah Portugis membawa tebu sebagai bahan baku pembuatan gula ke Brazil.

Seiring waktu, gula menjadi komoditas yang sangat populer. Antara tahun 1710 – 1770 M, gula mewakili 20% komoditas yang diekspor ke Eropa.

Industri Gula Era Hindia Belanda

BUKA MUSIM MANUFAKTUR 2021 (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc.)

Sejarah gula di Indonesia tidak lepas dari praktik kolonial Belanda dan negara lain. Padahal, kepulauan yang dulu bernama Hindia Belanda ini pernah menjadi daerah dengan produksi gula terbesar.

Dalam jurnal Colonial Java sugar industry and its global trajectory disebutkan bahwa sejak tahun 1870 hingga akhir abad ke-19, Jawa secara konsisten merupakan penghasil dan pengekspor gula tebu terbesar kedua di dunia setelah Kuba.

Mengutip situs resmi LP2M Universitas Jember, ekspor gula dari Hindia Belanda tercatat dilakukan di Batavia oleh VOC. Sayangnya, tidak ada literatur yang menyatakan bahwa pembuatan gula kristal dilakukan di daerah tersebut.

Namun ada indikasi bahwa pembuatan gula kristal di Indonesia pertama kali dilakukan di wilayah Banten. Masih mengacu pada sumber yang sama, hal ini berangkat dari keberadaan batu berbentuk silinder di Museum Banten Lama dan gambar peta Kota Banten tahun 1595.

Ketika Belanda datang ke Indonesia dan mulai menjajah Jawa, perkebunan tebu monokultur dibuka. Mengutip jurnal Dinamika Industri Gula Sejak Cultuurstelsel Sampai Krisis Malaise tahun 1830 – 1929, pembukaan perkebunan tebu secara masif dilakukan ketika kebijakan sistem tanam paksa diberlakukan. Alhasil, gula menjadi motor penggerak masuknya dana keuntungan ke kas negara kolonial.

Pada tahun 1835 banyak dibangun pabrik gula di Jawa. Misalnya pada tahun itu Buduran, Waru, Karang Bong. Tiga tahun kemudian, pabrik juga didirikan di kawasan Candi, Watutulis, Balong Bendo, dan Gedek.

Sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel sendiri membawa penderitaan bagi masyarakat adat. Terutama para petani khususnya di Jawa yang sengsara. Betapa tidak, di tengah peningkatan nilai ekspor gula pada tahun 1840 yang mencapai 74,2 gulden, kesejahteraan petani justru terabaikan.

Sementara itu, dikutip dari buku The Sugar Path to the Old Civilization of Semarang City, pada tahun 1860-an, Kuba sebagai negara penghasil gula terbesar memiliki 77 pabrik yang dilengkapi dengan teknologi vacuum pan. Sedangkan di Pulau Jawa, tak kurang dari 55 pabrik memiliki alat tersebut.

Setelah sistem tanam paksa diganti dengan politik agraria basah pada tahun 1870, pihak swasta akhirnya bergabung dengan industri gula. Hingga produksi gula meningkat pesat, namun kehidupan petani tetap sengsara.

Beranjak dari kurun waktu 1900 – 19300, industri gula di Jawa mengalami masa keemasannya. Tercatat pada tahun 1929 sedikitnya 164 pabrik didirikan dengan produksi gula mencapai 2,9 juta ton.

Lambat laun industri gula di Indonesia mulai diambil alih oleh pemerintah. Sejak kemerdekaan, tahun 1951, banyak pabrik gula warisan Belanda yang dinasionalisasi.

Sejak saat itu, pemerintah Indonesia berperan dalam keberlangsungan industri gula tanah air.

Situasi Industri Gula di Indonesia Saat Ini

Produksi gula di Indonesia terus berlanjut. Bahkan angka produksinya meningkat.

Merujuk pada kotak data, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gula tebu dari perkebunan besar mencapai 1.033,3 ton pada tahun 2021. Angka tersebut meningkat dibanding tahun 2020 yang hanya 975,6 ton.

Dalam data ini, hasil yang dicatat adalah produksi gula tebu yang berasal dari perkebunan yang diusahakan atau dikelola secara komersial oleh badan hukum.

Demikianlah pembahasan tentang sejarah gula di Indonesia. Berdasarkan data di atas, produksi dan kegiatan industri gula masih berlangsung. Namun, produksi gula tebu di perkebunan besar tersebut jauh di bawah kebutuhan gula nasional pada 2021.