liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Mengenal Frans Seda, Putra Flores yang Membenahi Keuangan Indonesia

Di akhir kekuasaan Orde Lama, keadaan ekonomi Indonesia kacau balau. Pada tahun 1960-an, situasi ekonomi ditandai dengan inflasi yang melonjak dan defisit anggaran yang melebar karena keuangan nasional yang tidak terencana dengan baik.

Memasuki pertengahan tahun 1966, Indonesia termasuk dalam kategori negara yang mengalami hiperinflasi, dengan tingkat inflasi tercatat sebesar 650%. Situasi ini didahului oleh penurunan ekonomi. Dalam arti tertentu, situasi ekonomi Indonesia saat itu adalah yang terburuk yang pernah ada.

Dalam situasi ini, muncul sosok yang diberi mandat untuk menstabilkan perekonomian. Tokoh tersebut adalah Frans Seda yang menjabat sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Ampera I dan II sejak 1966 hingga 1968.

Meski baru menjabat selama dua tahun, kontribusi Frans Seda untuk memperbaiki keuangan negara sangat terasa. Ia berhasil menurunkan inflasi secara drastis, mereformasi organisasi Kementerian Keuangan, dan mencanangkan sistem anggaran berimbang dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pembinaan Pemuda dan Politik Frans Seda

Franciscus Xaverius Seda atau lebih dikenal dengan nama Frans Seda lahir di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 4 Oktober 1926.

Ia belajar di Xaverius Muntilan College dan Hollandsche Burgerschool (HBS) di Surabaya. Sementara itu, ia memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Katolieke Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda pada tahun 1956.

Sebelumnya, pada masa perjuangan kemerdekaan, ia aktif sebagai anggota Kebangkitan Rakyat Indonesia (KRIS) Sulawesi, dan anggota Batalyon Paraja/Tentara Rakyat GRISK/Majelis TNI periode 1945-1950.

Ia juga anggota Markas Biro Perang di Yogyakarta yang dikirim ke Flores dan Surabaya. Kemudian, ia juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Indonesia di Surabaya, anggota Panitia Pembubaran Negara Jawa Timur dan Dewan Perwakilan Sementara (DPRS) Jawa Timur.

Frans Seda mampu menempati berbagai posisi strategis berkat keahliannya di bidang ekonomi, serta keahliannya dalam berorganisasi. Pengalaman di organisasi ini ia peroleh ketika menjadi anggota Panitia Kongres Pemuda di Surabaya, anggota Kongres Katolik Seluruh Indonesia di Yogyakarta (1949-1950).

Selain itu, beliau juga pernah menjadi anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda, dan pendiri/pengurus Ikatan Mahasiswa Katolik Indonesia (IMKI) di Belanda (1950-1956).

Pada era Demokrasi Terpimpin, di bawah Presiden Soekarno, Frans Seda juga merupakan sosok yang patut diperhitungkan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa jabatan strategis yang pernah dipegangnya seperti Menteri Perkebunan (1964-1966) dan Menteri Pertanian pada tahun 1966.

Sebagai informasi, Frans Seda baru berusia 38 tahun saat dilantik menjadi Menteri Perkebunan. Hal ini membuktikan bahwa di usianya yang masih muda, Frans Seda telah menjadi sosok penting di pemerintahan.

Memerangi Hiperinflasi dan Menstabilkan Ekonomi

Perjalanan Frans Seda di Kementerian Keuangan dimulai saat ia diangkat menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Ampera I. Ia dilantik pada 28 Juli 1966 di bawah pimpinan Penjabat Presiden saat itu, Soeharto.

Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, Indonesia menghadapi situasi ekonomi dengan inflasi 650%. Dalam situasi ekonomi seperti itu, Frans Seda selaku Menteri Keuangan diharapkan dapat mengubah kebijakan pembangunan negara.

Awal tahun 1960-an merupakan masa kemunduran ekonomi di Indonesia. Era ini diawali dengan inflasi yang masih melambung tinggi. Pada saat yang sama, defisit anggaran melebar.

Defisit ini dikelola dengan mencetak uang, sebuah kebijakan yang justru memperburuk keadaan ekonomi. Indonesia juga memiliki utang yang relatif besar. Cadangan devisa tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan impor.

Besarnya defisit anggaran salah satunya disebabkan oleh besarnya belanja, terutama untuk program-program politik. Beberapa jabatan yang menjadi prioritas politik, dan menghabiskan banyak biaya adalah untuk operasi keamanan, operasi di Irian Barat dan Malaysia.

Pada tahun 1965, defisit APBN melonjak menjadi Rp 985,5 miliar atau 40% dari total anggaran pemerintah. Padahal setahun sebelumnya jumlahnya hanya sekitar Rp 116,4 miliar.

Parahnya defisit ditutup dengan cara yang salah, yaitu dengan mencetak uang. Pada tahun 1965, jumlah uang beredar melonjak tajam menjadi Rp 2,713 triliun atau 4,2 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Pada triwulan pertama tahun 1965 saja, jumlah uang beredar melonjak menjadi Rp 5,317 triliun.

Menghadapi situasi tersebut, Frans Seda langsung merombak anggaran, yang sebelumnya bisa dikatakan semua urusan negara dilakukan tanpa perencanaan anggaran yang matang.

Secara umum, kebijakan yang diterapkan untuk mewujudkan stabilitas ekonomi adalah pengendalian anggaran, pengendalian sektor perbankan, pemulihan ekonomi pasar, memperhatikan sektor ekonomi, dan merangkul negara-negara barat untuk menarik modal asing.

Di bidang anggaran, Frans Seda mencanangkan konsep anggaran berimbang. Saat menyusun anggaran tahun 1967, ia menyusun anggaran yang diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp 81,3 miliar. Anggaran ini disesuaikan dengan pengeluaran. Selama masa jabatannya pula, pengeluaran “rutin” dan “pembangunan” mulai diakui.

Untuk menekan hiperinflasi, Frans Seda juga menaikkan harga BBM dari Rp 4 menjadi Rp 16 per liter. Kebijakan ini merupakan salah satu kebijakan yang tidak populer dan menuai protes. Namun, dia dan tim ekonominya tidak gentar dan tetap pada rencana untuk menstabilkan ekonomi Indonesia.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai Menteri Keuangan, Frans Seda dikelilingi para ekonom. Misalnya Prof. dr. Widjojo Nitisastro, Prof. dr. Sumitro Djojohadikusumo, dan Prof. dr. Mohammad Sadli, serta ekonom muda, seperti Emil Salim.

Kerja keras Frans Seda dan tim ekonominya membuahkan hasil. Pada akhir tahun 1968, inflasi Indonesia berkurang menjadi 112%. Memang, angka ini masih terlalu tinggi. Namun, mengingat upaya stabilisasi ekonomi dibangun di atas kondisi politik dan ekonomi yang tidak stabil, hal ini merupakan capaian yang sangat positif.

Basis ekonomi yang dikemukakannya semakin memantapkan situasi ekonomi Indonesia, bahkan ketika ia tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan. Pada akhir tahun 1969, inflasi Indonesia turun menjadi satu digit sebesar 9,9%.

Struktur Organisasi Kementerian Keuangan

Selain menjalankan kebijakan anggaran yang disiplin yang disebut anggaran berimbang, Frans Seda juga melakukan pembenahan organisasi Kementerian Keuangan yang saat itu masih bernama Kementerian Keuangan.

Di awal masa baktinya, ia mengubah Direktorat Jenderal Sumbangan Nasional (DDIN) menjadi Direktorat Jenderal Padjak (DDP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DDBT). Belakangan, ia mengubah Direktorat Jenderal Anggaran dan Belanja (DDUAP) menjadi Direktorat Jenderal Anggaran (DDA).

Beliau melaksanakan transformasi direktorat ini dalam rangka pelaksanaan Kabinet Dwi Dharma dan Tjatur Karya Ampera yang merupakan prasyarat pelaksanaan pembangunan nasional di segala bidang.

Untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, diperlukan peningkatan dan pengendalian penyelenggaraan, organisasi, dan pengembangan departemen untuk menjamin koordinasi, integrasi, dan koordinasi yang efektif dan efisien.

Frans Seda juga menyadari bahwa setiap pengeluaran negara harus digunakan sesuai peruntukannya dan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Oleh karena itu, perlu adanya suatu unit yang melaksanakan tugas pengawasan dan pemeriksaan keuangan negara secara efektif dan efisien.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, telah dibentuk unsur pelaksana teknis baru di Kementerian Keuangan yaitu Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan.

Dia terus mengatur Kementerian Keuangan. Pada tahun 1967, mengajukan usulan organisasi Kementerian Keuangan kepada Ketua Presidium Kabinet Ampera melalui surat Menteri Keuangan Nomor D.15.1.2.39, tanggal 23 Mei 1967.

Usulan ini memuat struktur organisasi Direktorat Jenderal Anggaran (DDA), dengan menambah dua direktorat yaitu Direktorat Administrasi Anggaran. Kemudian, pengalihan Direktorat Perjalanan dari Ditjen Pengawasan Keuangan Negara, ke DDA.

Belakangan, ia juga menata organisasi Ditjen Padjak dengan menambah direktorat baru, yakni Direktorat Perundang-undangan. Kemudian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan pembenahan, dengan membagi Direktorat Kepabeanan menjadi Direktorat Impor dan Direktorat Ekspor.

Frans Seda juga melakukan penataan Direktorat Jenderal Keuangan dengan memisahkan Direktorat Moneter dan Perbankan menjadi Direktorat Moneter Dalam Negeri dan Direktorat Perbankan.

Di penghujung masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan, Frans Seda masih melakukan persiapan. Hal itu ditunjukkan dengan penguatan Inspektorat Jenderal (Idjen) dan struktur Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara (DDPKN).

Frans Seda menerapkan semua langkah organisasi organisasi ini dalam rangka peningkatan kapasitas dan mobilitas aparatur Kementerian Keuangan.

Teruslah Bekerja Sampai Tua

Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan, bukan berarti kiprah Frans Seda di dunia politik dan ekonomi Indonesia memudar.

Prestasinya dalam mengawal stabilisasi perekonomian Indonesia kembali memberinya kepercayaan untuk menduduki kursi menteri di Kabinet Pembangunan I sebagai Menteri Perhubungan. Dia memegang posisi ini dari 6 Juni 1968 hingga 28 Maret 1973.

Sebagai Menteri Perhubungan, ia mencanangkan program penerbangan percontohan dan pelayaran di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur, serta beberapa kawasan wisata unggulan. Ia juga memulai pembangunan Bandara Soekarno-Hatta, sebagai pengganti Bandara Kemayoran.

Setelah menjabat sebagai Menteri Perhubungan, Frans Seda masih diperhitungkan dalam pemerintahan. Hal itu terlihat dari sederet jabatan yang dipercayakan kepadanya, seperti Duta Besar Republik Indonesia di Brussel untuk Masyarakat Ekonomi Eropa, Pemerintah Belgia dan Luksemburg pada periode 1973-1976.

Kemudian diangkat juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia periode 1976-1978, dan anggota Dewan Pertimbangan Dewan Pembangunan Daerah Timur Indonesia (DP-KTI), di bawah Presiden Soeharto pada tahun 1996.

Ketika Presiden Soeharto digantikan oleh BJ Habibie, Frans Seda dipercaya sebagai penasihat ekonomi. Selanjutnya pada tahun 1999 ia juga dipercaya sebagai penasihat ekonomi Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri yang kemudian menjadi Presiden ke-5 Republik Indonesia.

Selain bidang ekonomi, Frans Seda juga menaruh perhatian besar pada dunia pendidikan. Beliau adalah salah satu pendiri Yayasan dan Universitas Katolik Atma Jaya, sebuah lembaga pendidikan Katolik untuk seluruh anak Indonesia.

Pada tahun 2009, salah satu putra terbaik Indonesia ini menghembuskan nafas terakhirnya di usia 83 tahun. Hingga akhir hayatnya, Frans Seda dikenal sebagai sosok yang tulus, selalu memberikan yang terbaik, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Itulah yang membuatnya menjadi salah satu anak laki-laki terbaik Indonesia.