liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Jelang Pilpres 2024, Hacker Diramal Bidik Akun Media Sosial pada 2023

Peretas atau hacker seperti Bjorka diprediksi akan menyasar akun media sosial dan website di tahun mendatang, terutama terkait dengan pemilihan presiden atau presiden 2024. Penipuan online atau phising juga diprediksi akan terjadi secara besar-besaran.

Ketua CISSReC atau Pusat Kajian Keamanan Sistem Informasi dan Komunikasi Pratama Persadha mengatakan, peretasan antar akun media sosial berpotensi terjadi tahun depan. Bisa juga meretas situs web dan aplikasi milik pemerintah masing-masing.

“Berbagai kebocoran data masih akan banyak terjadi dan lebih parah lagi jika hal itu juga terjadi karena persaingan politik, baik di internal institusi maupun di atasnya,” ujar Pratama dalam keterangan pers, Rabu (28/12).

Kebocoran data, kata dia, bisa terjadi karena tiga faktor, yakni:

Serangan dunia maya atau peretasan Kesalahan sistem Faktor manusia, terutama operator

Oleh karena itu, beliau menyarankan beberapa hal antara lain:

Mengembangkan prinsip inti dan standar teknis untuk memastikan tingkat keamanan siber yang konsisten di seluruh perusahaan yang terlibat Menetapkan strategi keamanan siber nasional yang dapat ditindaklanjuti Meningkatkan prosedur dan peraturan infrastruktur rantai pasokan Melakukan kolaborasi swasta dan publik untuk menyediakan respons dan kapasitas infrastruktur keamanan siber

“UU Perlindungan Data Pribadi sudah ada. Tapi tetap tidak bisa,” ujarnya.

Apa kabar Hacker Bjorka?

Hacker Bjorka menjadi viral di Indonesia tahun ini, mencuri dan menjual miliaran data pengguna Indonesia. Selain itu, dilakukan beberapa serangan siber yang menyasar pejabat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan membentuk tim darurat. Tim darurat terdiri dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Badan Sandi Negara dan Siber (BSSN), Badan Intelijen Negara (BIN), dan Polri.

Namun Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber dan Sandi BSSN Kapolri. Dono Indarto mengatakan, penyidikan terhadap Bjorka diserahkan kepada penegak hukum.

“Jadi apa yang muncul, persoalan dan lain sebagainya, sudah diserahkan ke penegak hukum,” ujarnya di kantor Google Indonesia, pada Oktober (25/10).

Dia juga mengatakan, pemerintah masih mengkaji data yang dicuri oleh peretas Bjorka. “Data publik banyak, jadi belum bisa dikatakan itu kebocoran data,” ujarnya.

Kurang dari sebulan kemudian, Bjorka kembali menjual data WNI. Kali ini diklaim 3,2 miliar data dari aplikasi PeduliLindungi senilai US$ 100 ribu atau sekitar Rp 1,5 miliar di forum Breached.to.

Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membantah adanya kebocoran data.