liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Ahli IT Ungkap Modus Penipuan Ratusan Mahasiswa IPB Terjerat Pinjol

Sebanyak 121 mahasiswa IPB atau Institut Pertanian Bogor menjadi korban penipuan investasi berkedok penjualan online hingga terjerat pinjaman online. Pakar informasi dan teknologi juga membeberkan modus-modus penipuan.

Pakar Keamanan Teknologi Vaccinecom Alfons Tanujaya mengatakan, kasus tersebut mirip dengan bisnis multi level marketing atau MLM. Siswa senior menggunakan kekuatan senioritas untuk mendapatkan kepercayaan dari calon korban.

Gravitasi kesalahan pihak senior lebih berat daripada cara mengelabui perusahaan, kata Alfons kepada Katadata.co.id, Selasa (20/12).

Ketua Cyber ​​​​Information and Communication Systems Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha juga mengatakan bahwa penipu mencoba mendorong calon korban untuk membeli barang di toko online mereka menggunakan pinjaman online atau pinjaman gaji.

“Korban diinstruksikan untuk membayar menggunakan pinjaman, agar para penipu tidak mengeluarkan uang. Sedangkan korban dijanjikan komisi beberapa persen dari harga barang tersebut,” kata Pratama.

Sepengetahuan Pratama, korban penipuan adalah mahasiswa yang mencari uang untuk mengadakan kegiatan di kampus. “Para pelaku kejahatan berjanji akan membayar cicilan pinjaman online korban, namun hal itu tidak dilakukan hingga korban mencapai ratusan,” ujarnya.

Ia pun memberikan beberapa nasehat agar tidak terjebak dalam penipuan semacam ini. Berikut detailnya:

Waspadai janji palsu mahasiswa IPB. Hal ini karena tidak mungkin orang membayar utang cicilan pinjaman online atas nama orang lain sebagai cicilan. Tidak ingin bertransaksi atas nama Anda untuk kepentingan orang lain.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK Ogi Prastomiyono sebelumnya mengatakan sebanyak 121 mahasiswa IPB yang menjadi korban mengajukan pinjaman sebanyak 197 kali. Artinya ada siswa yang meminjam lebih dari satu kali.

“Jumlah pinjamannya Rp 650,19 juta. Dengan tagihan tertinggi Rp 16,09 juta,” kata Ogi dalam konferensi pers online, dikutip dari Antara, Senin (19/12). Data ini diperoleh dari Pos Pengaduan Satuan Tugas Waspada Investasi di IPB per 23 November.

Mahasiswa IPB itu mengajukan kredit dari platform resmi pinjaman online atau fintech lending. Dengan rincian sebagai berikut:

• 31 siswa meminjam dari Akulaku dengan pinjaman sebesar Rp 66,17 juta
• 74 siswa meminjam dari Kredivo dengan pinjaman sebesar Rp 240,55 juta
• 51 siswa meminjam dari Spayater di Shopee dengan pinjaman sebesar Rp 201,65 juta
• 41 siswa meminjam dari Spinjam di Shopee dengan pinjaman sebesar Rp 141,81 juta

OJK juga berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan tersebut untuk menjelaskan tunggakan tersebut dengan baik. Ratusan mahasiswa IPB juga berhasil mendapatkan keringanan atau restrukturisasi pinjaman.

Relaksasi ini berupa restrukturisasi, penghapusan pokok, bunga dan denda sesuai kebijaksanaan masing-masing perusahaan atau platform.

OJK menyelidiki kemungkinan pelanggaran dari keempat platform tersebut. Akibatnya, tidak ada tanda-tanda pelanggaran perlindungan konsumen dari Penyedia Jasa Keuangan (PUJK) kepada konsumen atau korban.

“Kasus ini merupakan penipuan berkedok investasi dengan menyuruh mahasiswa mengambil pinjaman di perusahaan keuangan dan pinjaman fintech yang sah,” kata Ogi.

“Kemudian uang tersebut digunakan untuk transaksi di toko online yang menunjukkan mereka terkait dengan penipu,” tambahnya.

Namun, OJK telah memberikan arahan dan meminta keempat perusahaan tersebut memperbaiki manajemen risiko dengan memperkuat analisis data calon debitur. Selain itu, meningkatkan sistem peringatan dini deteksi penipuan.